Kembali Menjadi Ibu Pekerja

Sudah lama nggak nulis dengan Bahasa Indonesia di hari Jumat. Sibuk ngapain aja sih sampe ngeblog aja keteteran?

Sibuk kerja…

Meja kerja saya

Kembali Menjadi Ibu Pekerja alias Full time working mom

Sudah dua bulan lebih sedikit sejak saya resmi balik lagi kerja kantoran. Kembali ke dunia kerja. Setelah tulisan saya terakhir mengenai gimana rasanya memutuskan untuk balik kerja full time, setelah melewati banyak proses interview sejak bulan Januari kemarin, saya akhirnya memutuskan untuk menerima tawaran pekerjaan yang sekarang ini.

Pekerjaan yang tidak saya harapkan pada awalnya, karena saya tadinya memilih untuk mengejar lowongan lain tapi malah saya mendapatkan tawaran ini secara ‘kebetulan’ (dalam tanda kutip karena saya tidak percaya dengan kebetulan, simply put, everything happen for a reason nothing is ever a coincidence). Tapi ternyata keputusan saya untuk menerima pekerjaan ini berbuah manis. Walaupun terhitung masih baru banget di sini tapi saya happy dengan pekerjaannya, orang-orangnya baik dan atmosfirnya enak.

Kendalanya hanya satu sebenernya, jarak. Dari rumah ke kantor cukup jauh dan cukup penuh perjuangan setiap harinya dengan naik kereta Commuter yang selalu penuh. Seminggu pertama badan saya rasanya remuk pegel linu karena nggak biasa naik kereta berdesak-desakan. Tapi sekarang saya sudah bisa santai, bersyukur ada kereta kalau tidak nggak kebayang deh macetnya pulang dan berangkat kerja.

Si bocah juga sudah mulai beradaptasi dengan jadwal kita yang berubah. Setiap hari saya masih berusaha menyempatkan bikinin dia sarapan sebelum saya berangkat kantor pagi-pagi. Di ruang tamu sekarang ada white board yang isinya pesan-pesan sponsor alias To-Do List untuk si kecil. Saya malah sudah ngajakin dia untuk ‘mampir’ di kantor saya dan menginap. Selain memang termasuk program orientasi, saya juga berharap dia bakalan ngerti kalau emaknya kerja tuh penuh perjuangan juga.

Keputusan untuk kembali bekerja full time ini sayangnya tidak diterima semua pihak dengan baik. Salah satu pihak yang bereaksi negatif adalah wali kelas si bocah. Si Miss bereaksi dengan panik seakan-akan anak saya akan berubah jadi anak terbadung sedunia karena saya kerja lagi. Yes, anak saya punya beberapa hal yang perlu diperbaiki di sekolah tapi anak mana sih yang nggak punya kendala? Reaksi si Miss ini sempet bikin saya gregetan dan mangkel. Si Miss ini tau saya ibu tunggal kok tapi kenapa sepertinya dia menyalahkan keputusan saya untuk kerja dan menjadi tulang punggung untuk menghidupi anak saya? Rasanya sedih, shock, kesal dan gregetan itu jadi satu waktu saya pulang dari sekolah anak saya beberapa minggu yang lalu. Bukannya mengerti akan kondisi saya dan berusaha mendukung saya, malah saya merasa si Miss berusaha menjebak saya untuk merasa bersalah.

Apa lantas saya harus merasa bersalah memutuskan untuk menghidupi anak saya? Apa saya harus merasa berdosa untuk mencari rejeki untuk membesarkan anak saya yang kebutuhannya semakin banyak?

Saya masih tidak habis pikir apa sih yang ada di benak si Miss itu? Apa semua ibu yang memutuskan untuk bekerja baik karena memang si Ibu adalah orang tua tunggal yang tidak punya pilihan lain atau si Ibu memang memutuskan untuk berkarir dan tetap menjalani tugasnya sebagai Ibu adalah salah?

Saya nggak ngerti pemikirannya.

Yang saya ngerti hanya this is my life…I have to do what is right for me and my family.

trust and follow our instincts (1)

 

Pernah nggak merasa dihakimi karena pilihan kita para emak ini dianggap tidak sesuai dengan harapan publik? Yuk mari kita bahas.

Spread the love

3 thoughts on “Kembali Menjadi Ibu Pekerja

  1. Nayarini Reply

    Pernah merasa dihakimi juga pas aku balik kerja full time setelah cuti melahirkan selama setahun, karena rupanya rata-rata hal yg ‘umum’ di area tempatku tinggal di inggris sini, ibu-ibunya kebanyakan yg memutuskan untuk jadi stay at home mum karena balik kerja ga nutup duitnya buat bayar daycare, atau yg tetep balik kerja tapi part time. Waktu aku bilang balik kerja full time mereka seakan ngejudge aku bukan ibu yg baik karena ninggalin anak di daycare 5 hari dalam seminggu gitu deh. Dan mungkin mereka yg jadi merasa lebih baik dari aku karena ngurus anak sendiri. Mungkin hanya perasaanku saja sih, cuma dari intonasinya kok aku merasa dihakimi. Bener ga nya, entahlah… Dulu suka sedih, sekarang udah cuek, hidup hidup gue kenapa orang lain yg pusing, hehe…

  2. jalan2liburan Reply

    duila si Miss kayak yang mau ngasih uang setiap bulan ke kamu aja ya Yen !

    Semangat terus mama dengan kerjaan barunya…..

    btw, kamu kerja di A ya yen sekarang? impian banyak orang tuh yen bisa gabung disitu 🙂

  3. rahmiaziza Reply

    Kadang orabg asal berpendapat aja ya mak, ngga mau coba menempatkan diri gimana seandainya berada di posisi kita. Semangat mak 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *