Proses Pemulihan Pasca Operasi Histerektomi

Proses Pemulihan Pasca Operasi Histerektomi

Tulisan ini adalah bagian kedua dari ‘seri’ perjalanan saya melewati proses histerektomi alias operasi pengangkatan rahim. Silakan baca Part 1 di sini.

Proses Pemulihan di Rumah

Menurut Suster, proses pasca histerektomi itu setara dengan proses melahirkan secara caesar jadi hanya dirawat 3 hari, 2 malam saja.

Saya nggak sabar untuk cepetan pulang. Karena sebaik-baiknya pelayanan di RS tetap saja lebih enak di rumah kan ya.

Jadi di tanggal 25 Mei 2022 saya sudah diperbolehkan pulang oleh RS dan wajib kembali untuk kontrol ke Dokter Kandungan 7 hari kemudian.

Yang paling menderita itu kalau harus bersin atau ketawa ya ampuuun perut tuh rasanya sakit banget! Dijenguk sahabat-sahabat pun saya nggak bisa ketawa lepas karena pasti kesakitan.

Oh ya, sebelumnya setelah berbekal banyak baca dan riset di sebuah komunitas khusus untuk perempuan yang melalui Histerektomi (Hysterectomy Support And Shared Experiences) saya sengaja beli korset seperti yang biasa dipakai pasca melahirkan dan saya bawa 1 ke RS. Jadi sebelum pulang saya pake korset karena bergerak saja masih rasanya sangat nggak nyaman. Sepertinya isi perut saya mengambang hahaha.

Perjalan pulang dari RS itu sungguh luar biasa. Adik saya harus mengendarai mobil dengan hati-hati dan menghindari jalanan yang rusak karena saya pasti kesakitan.

Histerektomi walau pun termasuk operasi paling rutin yang dihadapi wanita di seluruh dunia, tetap saja ini tuh operasi besar ya. Apalagi luka jahitan saya vertikal, bukan horizontal seperti rencana awal. Jadi saya memutuskan untuk ‘mengungsi’ ke rumah adik saya untuk masa-masa awal pemulihan karena saya nggak boleh naik tangga dulu, dan masih banyak pantangan lainnya di minggu-minggu pertama ini.

Di rumah adik saya, selama beberapa hari saya belum bisa banyak bergerak. Tidur pun nggak nyenyak. Saya selalu kebangun karena rasa sakit. Jadi minum obat penahan sakit nggak putus. Setelah beberapa hari akhirnya saya menyerah dan beli obat supositori (penahan sakit lewat dubur). Setelah pakai itu saya baru bisa tidur semalaman.

Korset jadi ‘sahabat’ banget yang bantu saya untuk merasa perut lebih disupport. Saya bisa jalan ke kamar mandi/ruang keluarga/dapur tapi masih harus pelan-pelan dan hati-hati.

Pasca Histerektomi juga kita nggak boleh angkat apa pun yang beratnya lebih dari 2.5 kilo ya, gaes! Belum boleh juga melakukan gerakan-gerakan yang bisa stretching otot perut.

Saya juga ngalamin komplikasi dengan mata yang mendadak burem banget sekitar 5 hari pasca operasi. Bahkan kacamata saya yang biasa juga nggak nolong sama sekali. Sampai nggak bisa lagi baca tulisan kecil-kecil di HP jadi harus digedein maksimal. Saya sempat khawatir nanti mesti ganti kacamata baru nih. Tapi ternyata hampir minggu ke 7, mata saya kembali normal dan kacamata saya sudah bisa dipake lagi. Ini juga adalah salah satu ‘efek samping’ yang nggak banyak dipahami Dokter karena nggak semua pasien Histerektomi ngalamin ini.

Oh ya, dari Grup Hysterectomy Support And Shared Experiences mereka juga punya panduan untuk sebelum operasi dan untuk setelah operasi yang berguna banget. Langsung download aja, gratis kok!

Grup ini jadi semacam lifeline saya yang harus duduk di tempat tidur dan rebahan selama masa pemulihan. Banyak sekali ‘teman seperjuangan’ yang mengerti bagaimana emosionalnya perjalanan menghadapi histerektomi ini (sisi ini bakalan saya tulis terpisah). Baik sebelum operasi mau pun sesudah operasi karena proses healing itu memang sangat individual dan jenis operasi Histerektomi juga ternyata beragam.

Selain minum obat-obatan dari RS dan Dokter Kandungan, saya juga minum suplemen yang mengandung albumin untuk membantu proses penyembuhan. Bahkan saya juga minum Pien Tze Huang, obat traditional China yang bantu proses pasca operasi. Ini minumnya setelah saya pulang dari RS tapi ya.

Karena sebelum operasi saya didiagnosa kena Diabetes (tipe 2) saya juga otomatis harus menjaga makanan supaya rendah karbo dan tanpa gula sama sekali. Merana banget rasanya di awal-awal karena kangen nasi putih dan roti-rotian!

Setelah 2 minggu pemulihan di rumah adik saya, saya merasa cukup enakan untuk pulang ke tempat saya sendiri.

Seminggu kemudian saya sudah berani beraktifitas ke luar rumah (karena ada meeting kerjaan).

Bergulat Dengan Kompilkasi

Sayangnya tepat masuk minggu ke empat pasca operasi, luka jahitan saya yang tadinya sudah kering tiba-tiba seperti meradang, merah dan perih. Saya pun buru-buru ke dokter lagi.

Ternyata jahitan saya infeksi!

Aduh mau nangis rasanya!

Saya harus mengganti perban setiap hari ke Faskes 1. Asupan albumin saya harus dinaikin lagi untuk bantu proses penyembuhan. Saya bahkan disuruh dokter makan putih telur 6 biji setiap harinya. Waduh mabuk telur nggak sih!

Tapi yang paling penting itu sebenarnya gimana saya menjaga gula darah supaya bisa kembali ‘normal’. Perjuangan ini yang sangat berat apalagi kalau diabetes itu kan banyak pikiran dan kurang tidur pun bikin kadar gula darah pasti naik. Pasien diabetes memang punya potensi ngalamin komplikasi pasca operasi lebih besar dan proses penyembuhan biasanya lebih lambat dari orang biasa.

Saya nyari-nyari info tentang cara cepat pengendalian diabetes dan saya menemukan Keto. Akhirnya saya putuskan untuk ngambil catering aja jadi setiap hari Senin – Jumat (makan siang dan makan malam). Weekend saya juga tetap makan tanpa carbo, tinggi protein dan nggak ada gula sama sekali. Pelan-pelan gula darah saya membaik. Nggak instant, tetap berproses. Tetap juga ngalamin yang namanya “Keto flu” di beberapa minggu pertama. Nanti kapan-kapan saya tulisin pengalaman saya ngejalanin Keto lifestyle ini ya.

Satu yang belum berani saya lakukan adalah olahraga karena kondisi jahitan yang masih infeksi.

Oh iya saya baru tahu lho ternyata otot perut itu bentuknya melingkari perut kita ya seperti korset lah. Jadi memang proses pemulihan untuk luka jahitan vertikal itu akan lebih makan waktu dibandingkan luka jahitan horizontal seperti caesar.

Saya sempat kesel dengan orang yang menganggap remeh proses Histerektomi dan bilang “Harusnya udah sembuh dong bla bla bla…” Pengen rasanya saya teriakin nih orang-orang kurang empati ini “Woooy, ini operasi besar tau nggak?! Organ tubuh saya diangkat! Lebih dari separuh alat reproduksi saya diangkat!

Dan hasil pemeriksaan patologi saya cukup mengagetkan. Walau pun saya lega dan bersyukur banget karena nggak ada jaringan yang terindikasi kanker, tapi ukuran miom di dalam rahim saya ukurannya sangat fantastis! Ukuran rahim saya yang berisi miom ternyata sebesar: 21cm x 18cm x 14cm! Ovarium kanan dan tuba falopi sebelah kanan harus diangkat karena ada kista.

Edyaaaan…gede bangeeet. Pantesan seperti bayi ukurannya.

Saat menulis blog ini, saya akhirnya sudah resmi dinyatakan sembuh dari infeksi luka operasi! YAY! Akhirnya setelah berminggu-minggu yang melelahkan karena setiap hari harus bolak-balik ke Faskes 1 dan harus menahan sakit saat luka jahitan dibersihkan, Dokter menyatakan infeksinya sudah tidak ada.

Saya memang masih harus melanjutkan proses penyembuhan. Perjalanan untuk pulih total ini masih panjang. Menurut riset butuh waktu 6 – 12 minggu pasca Histerektomi untuk sembuh total tapi menurut pengalaman teman-teman di komunitas Hysterectomy Support And Shared Experiences, proses ini nggak berhenti setelah 12 minggu. Kenapa? Karena balik lagi, proses healing kita pasti beda-beda dan kehilangan organ reproduksi bisa bikin efek samping yang beragam tergabung badan kita.

Sekarang saya sudah masuk ke minggu 9 pasca Histerektomi. Hormon saya sudah jauh lebih baik. Sebelumnya tuh ya hormon rasanya acak-acakan. Emosi saya naik turun. Saya jadi lebih cengeng (sebelumnya udah mewekan kok anaknya) tapi setelah Histerektomi ya ampun dengerin lagu aja bisa nangis!

Karena saya masih punya 1 ovarium di sebelah kiri, saya dianggap dokter belum perlu terapi hormon. Memang saya sudah berhenti haid tapi saya tidak ngerasain gejala menopause seperti pada umumnya (hot flashes, dll). Yang jelas lega rasanya nggak lagi perlu menderita saat tamu bulanan datang.

Energi level saya juga belum balik normal lagi. Saya masih gampang capek, gampang lupa. Kegiatan sederhana seperti duduk dan kerja masih terasa sangat melelahkan. Saya baru mau mencoba duduk di kursi kerja biasa hari ini. Wish me luck ya.

Untuk kamu yang sedang berjuang untuk pulih pasca Histerektomi, tetap semangat! We are in this journey together and you are not alone! 

 

Spread the love

5 thoughts on “Proses Pemulihan Pasca Operasi Histerektomi

  1. Pingback: Pengalaman Operasi Histerektomi - Maureen Hitipeuw

  2. fanny_dcatqueen Reply

    Dulu awal2 selesai operasi angkat rahim, yg paling sering dirasain mama mood swing. Dan jadi gampang capek juga tulangnya kayak keropos. Makanya sejak itu rutin minum susu kalsium. Beda2 sih memang efeknya ya mba.

    Duuuh tau banget rasa sakit selesai operasi rahim.walo aku ngalamin ya dlm bntuk operasi Cesar 2x. Sempet bandel juga, belum lama operasi bisa2 nya belanja dan bawa barang berat 😣. Akibatnya sampe rumah aku nangis kesakitan, jadi kayak wasir gitu. Padahal pas Cesar pertama ga terlalu sakit, bisa ditahan lah. Dan memang, korset itu sangat membantu mengurangi sakit.

    • Maureen Post authorReply

      Terima kasih banyak sharingnya Mba Fanny. Iya aku sudah mulai suplemen macam-macam untuk bantu proses penyembuhan juga untuk bantu kesehatan. Yang paling terasa kulit jadi super kering jadi mesti banyak-banyak pake lotion dan minum suplemen Primorse Oil. Duh kebayang 2x caesar Mba hehehe. Perjuangan ya emang menjadi Ibu sungguh luar biasa.

  3. Dewi Reply

    Terimakasih sharingnya kak Maureen, saya baru mengalami operasi histerektomi total dengan semua ovarium dan tuba falopi juga diangkat. Ini baru mau masuk minggu kedua, nyeri masih terasa terutama di bagian bawah kanan dan kiri deket tulang panggul.
    Baru coba pakai korset krn ada keperluan keluar rumah tapi setelahnya kok nyeri dibagian bawah terasa naik level nyerinya.
    Utk penggunaan korset aman ya kak utk kondisi seperti ini?

    • Maureen Post authorReply

      Hai Kak Dewi. Mungkin kalau ada nyeri pemakaian korsetnya bisa dikurangi ya Kak atau bisa nanya ke dokter? Karena tiap kasus beda-beda, memang kita harus peka lebih dengerin reaksi badan. Semoga proses pemulihannya lancar ya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *